Di banyak wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), tantangan yang masih dihadapi adalah keterbatasan infrastruktur digital, termasuk akses internet. Oleh karena itu, mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi.
Kondisi tersebut mendorong Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) untuk mensosialisasikan pemanfaatan aplikasi pendidikan yang dapat dipakai tanpa akses internet. Inisiatif ini diarahkan sebagai salah satu upaya memperluas akses terhadap sumber belajar. Selain itu, ini juga mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.
KIPIN: Aplikasi untuk Wilayah dengan Internet Terbatas
Aplikasi yang akan disosialisasikan oleh FORMAS yaitu bernama Kios Pintar (aplikasi KIPIN). Menurut Yohanes Handojo, program aplikasi KIPIN dirancang berdasarkan kurikulum pendidikan mulai dari tingkat PAUD hingga SLTA. Kehadiran solusi pembelajaran yang dapat berjalan tanpa internet menjadi relevan bagi sekolah-sekolah yang masih menghadapi keterbatasan jaringan.
Aplikasi KIPIN sendiri dikembangkan sebagai ekosistem pembelajaran digital yang menyediakan berbagai sumber belajar seperti buku, video, dan lainnya. Selain itu, aplikasi ini menyediakan keperluan evaluasi digital untuk mendukung KBM. Aplikasi ini menggunakan teknologi digitalisasi secara offline atau tanpa internet. Konsep tersebut memungkinkan teknologi pembelajaran tetap dimanfaatkan. Hal ini penting di wilayah yang konektivitas internetnya belum memadai.
Untuk wilayah daerah 3T, pendekatan seperti ini dapat menjadi alternatif untuk memperluas akses terhadap sumber belajar digital. Alternatif ini hadir tanpa menjadikan ketersediaan internet sebagai satu-satunya prasyarat. Dengan pendekatan ini, pemanfaatan teknologi pendidikan tidak harus selalu bergantung pada ketersediaan koneksi internet di lokasi sekolah.
Yohanes Handojo pun turut menegaskan bahwa perluasan akses pendidikan harus mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam. Menurutnya, kualitas pembelajaran, harusnya tidak terhambat hanya karena perbedaan lokasi dan keterbatasan jaringan internet.
Yohanes pun turut mengaitkan inisiatif perluasan tersebut dengan perhatian terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Hal ini termasuk capaian dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Yohanes Handojo menebutkan bahwa program aplikasi KIPIN yang berbasis kurikulum dari tingkat PAUD sampai SLTA bisa sebagai salah satu solusi pendidikan. Selain itu, ini juga menjadi inovasi baru pendidikan untuk rendahnya Programme for International Student Assessment (PISA) untuk Indonesia ini.
Pemanfaatan teknologi pendidikan yang adaptif terhadap kondisi daerah dinilai penting. Digitalisasi pendidikan tidak selalu harus identik dengan pembelajaran yang sepenuhnya bergantung pada internet. Di wilayah dengan konektivitas terbatas, teknologi offline dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memastikan sumber belajar tetap tersedia.
Pemerataan akses pendidikan merupakan bagian dari agenda yang lebih besar untuk FORMAS. Agenda ini yaitu membangun sumber daya manusia yang mampu menopang Indonesia menuju 2045. Yohanes Handojo menyebut kesempatan Indonesia untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045 harus dikawal melalui persatuan, gotong royong, peningkatan kualitas SDM. Selain itu, penguatan nilai-nilai kebangsaan juga sangat penting.
Jika demikian, digitalisasi pendidikan bukan sekadar menghadirkan perangkat atau aplikasi ke sekolah. Namun yang lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar dapat dipakai dan memberikan manfaat bagi guru maupun peserta didik. Ini termasuk mereka yang belajar di wilayah dengan keterbatasan konektivitas.
Inisiatif sosialisasi aplikasi aplikasi KIPIN untuk daerah 3T yang di-support oleh FORMAS menjadi salah satu contoh. Hal itu membuktikan bahwa pemerataan pendidikan membutuhkan solusi yang disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.
Nah itulah tadi beberapa penjelasan singkat tentang aplikasi KIPIN, salah satu program yang dirancang sebagai solusi pendidikan tanpa internet di daerah 3T. Di tengah upaya Indonesia mempersiapkan generasi menuju 2045, memastikan setiap anak memiliki kesempatan memperoleh sumber belajar yang berkualitas baik di kota maupun di pelosok negeri menjadi bagian penting dari perjalanan menuju Indonesia Emas.




