KRETA NEWS, JAKARTA – Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA yang dikaitkan dengan paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dalam delapan hari.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang disampaikan dalam konferensi pers dan dilaporkan Reuters, jumlah kasus tercatat sebanyak 113.336 hingga 9 September 2026. Pada 1 September, jumlahnya masih berada di angka 50.891 kasus.
Dengan demikian, terdapat penambahan 62.445 kasus atau sekitar 123 persen selama periode tersebut. Lonjakan ini terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan masih memicu kabut asap di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan.
Data tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati. Namun, laporan yang tersedia tidak merinci jumlah kasus pada masing-masing provinsi sehingga belum dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi khusus di Kepulauan Riau.
Lebih dari 12,5 Juta Orang Terpapar Kabut Asap
Kementerian Kesehatan memperkirakan lebih dari 12,5 juta orang berada di wilayah yang terdampak paparan kabut asap pada tujuh provinsi.
Pemerintah telah menyalurkan hampir satu juta masker, mengirim ratusan konsentrator oksigen, serta mengerahkan ribuan tenaga kesehatan untuk membantu penanganan warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Paparan asap kebakaran dapat membawa partikel halus dan berbagai zat pencemar ke udara. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu saluran pernapasan, terutama apabila masyarakat berada di luar ruangan dalam waktu lama tanpa perlindungan yang memadai.
ISPA merupakan kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Keluhan yang muncul dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada penyebab, kondisi kesehatan, serta tingkat paparannya.
Meningkatnya jumlah kasus dalam waktu singkat menunjukkan pentingnya pemantauan kualitas udara dan kesiapan layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Kabut Asap Juga Menjangkau Negara Tetangga
Dampak kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada wilayah Indonesia. Singapura dan Malaysia juga dilaporkan mengalami penurunan kualitas udara akibat kabut asap lintas batas.
Upaya pemadaman turut mendapat dukungan dari negara lain. Jepang mengirim tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu operasi pemadaman dari udara, sedangkan Malaysia menawarkan bantuan serupa.
Data pemerintah menunjukkan sekitar 202.000 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Yayasan Konservasi Alam Nusantara memperkirakan sekitar 600.000 hektare lahan lainnya mengalami kerusakan selama Agustus.
Perbedaan angka tersebut perlu dibaca berdasarkan periode dan metode penghitungan masing-masing sumber. Luas lahan yang terbakar juga dapat berubah seiring pemutakhiran hasil pemantauan lapangan dan citra satelit.
Kepri Perlu Memantau Perkembangan Kabut Asap
Laporan mengenai peningkatan ISPA tersebut tidak menyebutkan angka khusus untuk Kepulauan Riau. Karena itu, belum dapat disimpulkan bahwa Kepri mengalami lonjakan kasus dengan pola yang sama.
Meski demikian, perkembangan kabut asap tetap perlu diperhatikan. Kreta News sebelumnya memberitakan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kecamatan Bunguran Batubi, Kabupaten Natuna.
Pemerintah Kabupaten Natuna saat itu membagikan masker kepada masyarakat sebagai langkah perlindungan awal. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran dan penurunan kualitas udara tetap dapat dirasakan di wilayah Kepulauan Riau.
Data kualitas udara, arah angin, jarak pandang, serta informasi dari fasilitas kesehatan perlu dipantau secara berkala. Masyarakat juga sebaiknya tidak hanya mengandalkan kondisi langit secara kasatmata karena partikel pencemar berukuran kecil tidak selalu terlihat.
Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan Saat Udara Memburuk
Dalam materi edukasi mengenai antisipasi ISPA selama kabut asap, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Pintu dan jendela rumah dapat ditutup untuk mengurangi masuknya asap. Apabila harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai.
Warga yang mengalami gangguan pernapasan atau merasakan keluhan semakin berat sebaiknya menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
Langkah pencegahan menjadi penting karena dampak kabut asap tidak hanya bergantung pada lamanya kebakaran. Arah angin, cuaca, jarak dari titik api, dan kondisi kesehatan masing-masing orang turut memengaruhi tingkat risiko.
Pemerintah daerah di Kepulauan Riau juga perlu menyampaikan informasi kualitas udara dan perkembangan kasus gangguan pernapasan secara terbuka apabila terjadi perubahan kondisi. Informasi yang cepat membantu masyarakat menentukan kapan harus membatasi aktivitas dan mencari pertolongan medis.
Sumber: Laporan Reuters mengenai peningkatan kasus ISPA akibat kabut asap, 10 September 2026 dan materi edukasi Kementerian Kesehatan mengenai antisipasi ISPA.






