KRETA NEWS, BATAM – Tinggi muka air di tujuh waduk yang dipantau Badan Pengusahaan Batam mengalami penurunan dalam sepekan. Penurunan terbesar terjadi di Waduk Sei Harapan yang menyusut 26 sentimeter.
Berdasarkan data BP Batam, tinggi muka air Waduk Sei Harapan turun dari 8,16 meter di atas permukaan laut pada 3 September menjadi 7,90 meter pada 10 September 2026.
Selain Sei Harapan, penurunan juga terjadi di Waduk Sei Ladi, Sei Nongsa, Duriangkang, Muka Kuning, Sei Tembesi, dan Sei Rempang.
Data tersebut menunjukkan seluruh waduk yang masuk dalam pemantauan mengalami penurunan tinggi muka air selama periode tujuh hari.
Sei Harapan Turun Paling Besar
Waduk Sei Harapan mencatat penurunan tertinggi, yakni 26 sentimeter. Posisi tinggi muka airnya berubah dari 8,16 meter menjadi 7,90 meter.
Penurunan terbesar berikutnya terjadi di Waduk Sei Nongsa sebesar 22 sentimeter, dari 6,33 meter menjadi 6,11 meter.
Waduk Muka Kuning turun 18 sentimeter, dari 22,73 meter menjadi 22,55 meter. Sementara itu, Waduk Sei Ladi menyusut 16 sentimeter, dari 18,36 meter menjadi 18,20 meter.
Waduk Sei Tembesi mengalami penurunan 13 sentimeter, dari 6,78 meter menjadi 6,65 meter. Tinggi muka air Waduk Duriangkang turun 11 sentimeter, dari 6,51 meter menjadi 6,40 meter.
Penurunan paling kecil terjadi di Waduk Sei Rempang sebesar 5 sentimeter, dari 4,55 meter menjadi 4,50 meter.
Berikut perbandingan tinggi muka air tujuh waduk Batam:
| Waduk | 3 September 2026 | 10 September 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Sei Harapan | 8,16 meter | 7,90 meter | Turun 26 cm |
| Sei Nongsa | 6,33 meter | 6,11 meter | Turun 22 cm |
| Muka Kuning | 22,73 meter | 22,55 meter | Turun 18 cm |
| Sei Ladi | 18,36 meter | 18,20 meter | Turun 16 cm |
| Sei Tembesi | 6,78 meter | 6,65 meter | Turun 13 cm |
| Duriangkang | 6,51 meter | 6,40 meter | Turun 11 cm |
| Sei Rempang | 4,55 meter | 4,50 meter | Turun 5 cm |
Seluruh Lokasi Mencatat Curah Hujan Nol Milimeter
Dalam laporan pengukuran pada 3 September, BP Batam mencatat curah hujan sebesar nol milimeter di seluruh lokasi waduk. Kondisi yang sama kembali tercatat pada laporan 10 September 2026.
Data tersebut menunjukkan tidak ada curah hujan yang tercatat pada waktu pengukuran di kedua tanggal tersebut. Namun, angka itu tidak dapat langsung diartikan bahwa hujan sama sekali tidak turun sepanjang tujuh hari karena laporan hanya menampilkan catatan pada tanggal pemantauan.
Tidak adanya tambahan air hujan yang tercatat pada dua periode pengukuran terjadi bersamaan dengan penurunan tinggi muka air di seluruh waduk.
Pergerakan tinggi muka air dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk curah hujan, penggunaan air baku, penguapan, kondisi daerah tangkapan air, dan karakteristik masing-masing waduk.
Data tinggi muka air saja belum cukup untuk menentukan volume air yang tersedia ataupun memperkirakan berapa lama cadangan air dapat digunakan.
Jarak dari Batas Limpasan Berbeda di Setiap Waduk
Selain tinggi muka air, laporan BP Batam mencantumkan elevasi top spill atau batas limpasan masing-masing waduk.
Pada 10 September 2026, Waduk Sei Rempang berada 10 sentimeter di bawah batas limpasan. Tinggi muka airnya tercatat 4,50 meter, sedangkan top spill berada pada 4,60 meter.
Waduk Sei Ladi berada 80 sentimeter di bawah top spill, sedangkan Waduk Sei Tembesi memiliki selisih 85 sentimeter.
Waduk Duriangkang berada 1,10 meter di bawah batas limpasan. Selanjutnya, Sei Harapan memiliki selisih 1,60 meter dan Muka Kuning 2,45 meter.
Jarak paling besar tercatat di Waduk Sei Nongsa. Tinggi muka airnya berada pada 6,11 meter, sedangkan batas limpasan tercatat 10 meter atau memiliki selisih 3,89 meter.
Namun, jarak terhadap top spill tidak dapat digunakan secara tunggal untuk menyimpulkan tingkat keamanan cadangan air.
Setiap waduk memiliki kapasitas tampungan, bentuk dasar, luas genangan, tingkat pengambilan air, dan batas operasional yang berbeda. Penurunan dengan ukuran sentimeter yang sama juga belum tentu menunjukkan kehilangan volume air yang sama.
Perlu Dilihat sebagai Pergerakan Berkala
Perbandingan data satu pekan menunjukkan arah pergerakan tinggi muka air, tetapi belum menggambarkan tren jangka panjang.
Untuk mengetahui apakah penurunan berlanjut atau berubah setelah turun hujan, data tersebut perlu dibandingkan dengan pengukuran berikutnya.
Informasi mengenai volume tampungan, tingkat produksi instalasi pengolahan air minum, dan batas minimum operasional juga diperlukan untuk menilai kondisi pasokan air secara lebih menyeluruh.
Pemantauan berkala penting karena waduk menjadi bagian utama dari penyediaan air baku di Batam. Perubahan tinggi muka air dapat menjadi indikator awal untuk memperhatikan perkembangan curah hujan dan ketersediaan air.
Data BP Batam memperlihatkan bahwa hingga 10 September 2026, ketujuh waduk yang dipantau masih berada di bawah batas limpasan dan seluruhnya mengalami penurunan dibandingkan satu pekan sebelumnya.
Sumber: Informasi Tinggi Muka Air dan Curah Hujan pada Waduk di Batam, BP Batam, 3 dan 10 September 2026.







