KRETA NEWS, BATAM – Warga Pulau Sembur di Kelurahan Galang Baru, Kota Batam, kini dapat menikmati pasokan listrik selama 24 jam. Hal ini terjadi setelah Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS di wilayah tersebut mulai beroperasi.
PLTS Pulau Sembur memiliki kapasitas terpasang 925,6 kilowatt peak atau sekitar 1 megawatt peak. Pembangkit tersebut dilengkapi Battery Energy Storage System atau BESS berkapasitas 1 megawatt hour untuk menyimpan energi yang dihasilkan panel surya.
Selain memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, fasilitas ini dirancang untuk menggerakkan kegiatan ekonomi nelayan. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Galang Baru akan dilibatkan dalam pengelolaan PLTS serta sarana pendukung usaha perikanan.
Beroperasi Sejak 17 Agustus 2026
Deputi Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi Panel Barus mengatakan pembangunan PLTS telah selesai. Fasilitas tersebut mulai beroperasi sejak 17 Agustus 2026.
Sebelum PLTS beroperasi, masyarakat Pulau Sembur yang belum terhubung dengan jaringan listrik masih mengandalkan genset pribadi selama sekitar tiga hingga empat jam pada malam hari.
Sistem PLTS dan baterai yang telah dibangun memungkinkan masyarakat memperoleh suplai listrik sepanjang hari. Ini sangat penting untuk mendukung kebutuhan rumah tangga, fasilitas umum, dan kegiatan produktif.
Energi yang dihasilkan dapat melayani sekitar 200 kepala keluarga, termasuk kebutuhan listrik bagi 158 rumah di Pulau Sembur.
Proyek ini dikembangkan Pertamina New & Renewable Energy bersama Kementerian Koperasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Danantara, dan pemerintah daerah. Selain itu, PT Surya Energi Indotama menjadi pelaksana pekerjaan engineering, procurement, and construction.
Kopdes Galang Baru Akan Kelola PLTS
Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Galang Baru direncanakan mengelola PLTS dan fasilitas usaha yang dibangun di Pulau Sembur secara mandiri.
Pengelolaan tersebut menjadi bagian dari konsep productive use of energy, yaitu pemanfaatan listrik tidak hanya untuk penerangan. Selain itu, listrik juga digunakan untuk menjalankan kegiatan ekonomi masyarakat.
Sekitar 90 persen masyarakat Pulau Sembur bekerja sebagai nelayan. Karena itu, penyediaan energi di wilayah tersebut dihubungkan langsung dengan kebutuhan produksi, penyimpanan, dan distribusi hasil perikanan.
Sebanyak enam pemuda asal Pulau Sembur telah mengikuti pelatihan selama beberapa pekan untuk mengoperasikan PLTS. Mereka juga telah memperoleh sertifikasi dari Kementerian ESDM.
Tenaga lokal tersebut nantinya akan dilibatkan sebagai operator PLTS, mesin pembuat es, dan gudang pendingin yang dikelola melalui koperasi.
Perkuat Rantai Dingin Hasil Perikanan
Fasilitas pendukung yang disiapkan meliputi mesin pembuat es berkapasitas empat ton per hari dan gudang pendingin berkapasitas lima ton.
Ketersediaan es dan ruang penyimpanan dingin diharapkan membantu nelayan menjaga kesegaran ikan setelah ditangkap. Selama ini, keterbatasan listrik dan fasilitas penyimpanan menjadi salah satu kendala dalam mempertahankan kualitas hasil perikanan sebelum dipasarkan.
Rantai dingin yang lebih baik juga dapat mengurangi risiko kehilangan hasil tangkapan. Selain itu, rantai dingin memberikan waktu yang lebih panjang bagi nelayan untuk menyimpan dan mendistribusikan ikan.
Pengembangan kegiatan usaha turut mencakup kapal listrik yang direncanakan untuk mengangkut hasil perikanan dan mendukung distribusi logistik masyarakat.
Dengan fasilitas tersebut, nelayan tidak hanya memperoleh akses energi, tetapi juga sarana produksi yang dapat meningkatkan nilai ekonomi hasil tangkapannya.
Jadi Percontohan untuk Pulau Kecil
PLTS Pulau Sembur menjadi salah satu proyek awal yang mendukung Program PLTS 100 gigawatt peak pemerintah pusat.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Provinsi Kepulauan Riau Riki Rionaldi menyebut model di Pulau Sembur berpeluang diterapkan pada pulau-pulau lain di Kepri yang mempunyai potensi ekonomi. Namun, pulau-pulau tersebut masih menghadapi keterbatasan akses listrik.
Pengembangan serupa dapat dilakukan dengan memetakan potensi ekonomi setempat, kebutuhan energi, dan kemampuan koperasi. Selain itu, ada peluang kerja sama dengan penyedia teknologi dan investor.
Selain memberikan akses listrik yang lebih andal, pengoperasian PLTS diproyeksikan menghemat penggunaan bahan bakar minyak hingga sekitar 877 liter per hari. Dengan kata lain, penghematan mencapai 320 ribu liter per tahun.
Potensi penghematan biaya bahan bakar diperkirakan mencapai Rp3,5 miliar hingga Rp5 miliar per tahun.
PLTS Pulau Sembur menunjukkan bahwa pembangunan energi terbarukan di wilayah kepulauan dapat dihubungkan langsung dengan penguatan koperasi. Hal ini berkontribusi pada penciptaan kegiatan usaha, serta peningkatan produktivitas masyarakat pesisir.
Sumber: Kementerian Koperasi melalui ANTARA Kepri, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui ANTARA Kepri, dan PT Surya Energi Indotama.










