KRETA NEWS, BATAM – Tinggi Muka Air atau TMA Waduk Nongsa turun hingga mencapai 5,96 meter di tengah rendahnya intensitas hujan akibat fenomena El Niño yang diperkirakan berlangsung sampai awal Oktober 2026.
Badan Pengusahaan Batam bersama PT Air Batam Hilir terus memantau kondisi seluruh waduk dan mengatur pengambilan air baku agar cadangan yang tersedia dapat bertahan lebih lama.
Meskipun TMA Waduk Nongsa mengalami penurunan, produksi air bersih di Batam secara keseluruhan masih berada di atas kebutuhan rata-rata masyarakat.
Produksi Air Masih di Atas Kebutuhan
Produksi efektif air bersih yang masuk ke sistem saat ini mencapai 3.780 liter per detik atau Lps. Sementara itu, kebutuhan rata-rata masyarakat berada di kisaran 3.700 Lps.
Dengan demikian, sistem penyediaan air Batam masih memiliki margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.
Kondisi tersebut tercatat setelah memperhitungkan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen. Namun, margin yang relatif terbatas membuat pengaturan produksi tetap diperlukan apabila kondisi minim hujan terus berlangsung.
BP Batam melakukan pemantauan kondisi waduk setiap hari dan mengoptimalkan produksi agar pasokan air baku tetap terjaga.
“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” kata Kepala BP Batam Amsakar Achmad dalam keterangan pada Senin, 21 September 2026.
Suplai Nongsa Diperkuat dengan Sistem Pendukung
Penurunan TMA Waduk Nongsa menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap kelangsungan distribusi air bersih di wilayah tersebut.
Untuk menindaklanjuti kondisi itu, tim BP Batam turun langsung ke area sekitar waduk guna memantau keadaan sekaligus mendengarkan keresahan masyarakat.
BP Batam juga memperkuat suplai air menuju wilayah Nongsa melalui pengoperasian sistem pendukung. Mobil tangki disiapkan untuk menyalurkan air bersih ke kawasan yang alirannya belum optimal.
Langkah tersebut dilakukan sebagai penanganan jangka pendek sembari menjaga keseimbangan antara produksi air dan ketersediaan air baku di waduk.
Modifikasi Cuaca hingga Penambahan Kapasitas IPA
Jika kondisi minim hujan berlanjut, BP Batam telah menyiapkan sejumlah skenario tambahan untuk menjaga kontinuitas pelayanan air bersih.
Salah satunya berupa koordinasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC guna meningkatkan peluang terjadinya hujan di kawasan tangkapan air.
BP Batam juga merencanakan pembangunan Instalasi Pengolahan Air baru berkapasitas 50 Lps di Sei Ladi. Tambahan kapasitas tersebut diharapkan dapat memperkuat daya dorong dan kontinuitas pasokan air.
Sejumlah embung turut dipertimbangkan sebagai sumber air alternatif. Langkah ini bertujuan mengurangi tekanan terhadap waduk utama ketika ketersediaan air baku mengalami penurunan.
Skenario lainnya adalah pengaturan suplai air secara bergilir dengan mempertimbangkan kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.
Pengaturan bergilir masih menjadi skenario antisipasi dan belum disebut sebagai kebijakan yang sedang diterapkan secara menyeluruh.
Kebutuhan Air Batam Diproyeksikan Mencapai 7.149 Lps
Dalam jangka panjang, kebutuhan air Batam diproyeksikan meningkat menjadi 7.149 Lps pada 2045.
Peningkatan kebutuhan tersebut dipengaruhi pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
Untuk menghadapi pertumbuhan tersebut, BP Batam mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management. Program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan air sekaligus mengurangi ketergantungan Batam terhadap waduk dan air hujan.
Rencana bauran sumber air hingga 2045 mencakup pasokan sebesar 2.500 Lps dari teknologi Sea Water Reverse Osmosis atau SWRO, 500 Lps dari air daur ulang, serta 500 Lps dari embung dan pemanfaatan air hujan.
BP Batam juga merencanakan pasokan sekitar 3.009 Lps dari waduk laut dan sumber air dari wilayah sekitar.
Jika seluruh rencana tersebut terealisasi, kapasitas bauran air mencapai 6.509 Lps. Angka itu masih terpaut sekitar 640 Lps dari proyeksi kebutuhan air Batam sebesar 7.149 Lps pada 2045.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sumber air baru perlu disertai efisiensi jaringan, pengendalian kehilangan air, serta penyesuaian kapasitas secara berkelanjutan.
Penurunan TMA Waduk Nongsa menjadi pengingat bahwa ketahanan air Batam masih sangat dipengaruhi curah hujan. Pengembangan sumber air alternatif menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan kegiatan ekonomi.
Sumber: Badan Pengusahaan Batam, “Pantau Ketat Kondisi Waduk Nongsa, BP Batam Siapkan Langkah Antisipatif”, serta infografis kondisi Waduk Nongsa dan rencana ketahanan air Batam, September 2026.









