KRETA NEWS, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan bahwa September 2026 masih menjadi fase kritis kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kondisi kering, pengaruh El Niño, serta kemunculan titik panas menjadi faktor yang harus diwaspadai.
BMKG mencatat El Niño telah mencapai kategori sangat kuat. Berdasarkan pemantauan hingga akhir Agustus 2026, indeks ENSO rata-rata selama Juni–Agustus berada pada angka 2,2.
Fenomena tersebut diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Dampaknya terlihat dari bertambahnya hari tanpa hujan dan rendahnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hujan yang turun di sejumlah daerah umumnya masih bersifat lokal dan belum mampu memperbaiki kondisi kekeringan secara merata.
Lebih dari 80 Persen Wilayah Mengalami Kemarau
Analisis BMKG menunjukkan sebanyak 567 Zona Musim atau sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau hingga akhir Agustus 2026.
Wilayah yang berada dalam periode kemarau mencakup sebagian besar Pulau Sumatera, termasuk Riau dan Kepulauan Riau. Kondisi serupa terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sejumlah wilayah Papua.
Curah hujan pada dasarian ketiga Agustus didominasi kategori rendah. Proporsinya mencapai 92,8 persen wilayah, sedangkan daerah dengan curah hujan kategori tinggi hanya sekitar 0,21 persen.
BMKG juga mencatat sifat hujan di sekitar 93,96 persen wilayah berada pada kategori bawah normal.
Data tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau 2026 tidak hanya meluas, tetapi juga berlangsung dalam kondisi yang lebih kering dibandingkan pola biasanya.
Hujan Belum Merata
BMKG memperkirakan peluang pertumbuhan awan hujan pada 6–13 September relatif rendah di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut terutama terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, sebagian Sulawesi, dan Papua Selatan. Peluang hujan alami yang dapat membantu pemadaman kebakaran juga masih terbatas.
Meski demikian, El Niño tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan terus mengalami cuaca cerah tanpa hujan.
Hujan lokal masih dapat terjadi karena dipengaruhi kondisi atmosfer dan karakter cuaca setempat. Masyarakat tetap perlu memperhatikan prakiraan harian karena hujan, angin kencang, maupun petir masih mungkin muncul di tengah musim kemarau.
Perbedaan ini penting dipahami. El Niño merupakan fenomena iklim yang memengaruhi kecenderungan curah hujan dalam periode tertentu, sedangkan kondisi cuaca harian dapat berubah dalam waktu lebih singkat.
Tujuh Provinsi Menjadi Perhatian Utama
BMKG menyebut tujuh provinsi yang memerlukan perhatian utama dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Daerah tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Selain peningkatan titik panas, sebaran asap mulai terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Konsentrasi partikel halus atau PM2.5 juga mengalami kenaikan di beberapa lokasi yang terdampak kebakaran.
Kondisi itu tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga berisiko menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat.
Penanganan sejak titik api masih kecil menjadi penting karena kebakaran dapat kembali aktif atau meluas akibat kondisi lahan kering dan tiupan angin.
Operasi Modifikasi Cuaca Dilakukan Secara Adaptif
BMKG mendukung penanganan karhutla melalui Operasi Modifikasi Cuaca bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, serta sejumlah pihak terkait.
Pelaksanaannya menyesuaikan kondisi atmosfer dan kebutuhan di setiap wilayah. Operasi ini juga dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air dan ketahanan pangan.
Meski begitu, modifikasi cuaca tetap membutuhkan keberadaan awan yang memenuhi persyaratan. Upaya tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti pencegahan kebakaran di lapangan.
Pemerintah daerah, pengelola perkebunan dan kehutanan, serta masyarakat tetap memegang peran penting dalam mencegah pembakaran lahan dan mendeteksi titik api sejak dini.
Kepri Tetap Perlu Mengantisipasi Dampak Kemarau
Kepulauan Riau tidak termasuk dalam tujuh provinsi yang disebut BMKG sebagai perhatian utama karhutla. Namun, wilayah Kepri masih tercatat berada dalam musim kemarau.
Kondisi kering tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi ketersediaan air baku, vegetasi yang mudah terbakar, kegiatan pertanian, dan kebutuhan air masyarakat di pulau-pulau kecil.
Kepri juga perlu memantau pergerakan asap dari wilayah Sumatera apabila kebakaran meluas dan arah angin membawa partikel ke kawasan kepulauan.
Masyarakat diimbau tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan api. Penggunaan air juga perlu dilakukan secara bijak, terutama di kawasan yang pasokan airnya bergantung pada waduk atau curah hujan.
Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi BMKG karena situasi setiap daerah dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, analisis dinamika atmosfer dan perkembangan karhutla, 2–7 September 2026.









