KRETA NEWS, BATAM – Tinggi muka air enam waduk di Batam kembali menurun pada 19 September 2026 jika dibandingkan dengan pengukuran 10 September. Penurunan terbesar terjadi di Waduk Sei Nongsa yang menyusut 20 sentimeter dalam sembilan hari.
Jika dibandingkan dengan posisi pada 3 September 2026, tinggi muka air Waduk Sei Nongsa telah turun 42 sentimeter, dari 6,33 menjadi 5,91 meter di atas permukaan laut.
Data tersebut berasal dari pemantauan tinggi muka air atau TMA waduk yang dipublikasikan Badan Pengusahaan Batam.
Selain Sei Nongsa, penurunan juga terjadi di Waduk Sei Harapan, Muka Kuning, Sei Ladi, Sei Tembesi, dan Duriangkang. Sementara itu, TMA Waduk Sei Rempang naik tipis tiga sentimeter dibandingkan 10 September, tetapi masih dua sentimeter lebih rendah daripada posisi awal September.
Perubahan TMA Waduk pada 10–19 September
Berikut perubahan tinggi muka air tujuh waduk Batam berdasarkan pengukuran 10 dan 19 September 2026:
- Sei Nongsa: 6,11 menjadi 5,91 meter, turun 20 sentimeter.
- Sei Ladi: 18,20 menjadi 18,07 meter, turun 13 sentimeter.
- Muka Kuning: 22,55 menjadi 22,43 meter, turun 12 sentimeter.
- Sei Tembesi: 6,65 menjadi 6,56 meter, turun sembilan sentimeter.
- Duriangkang: 6,40 menjadi 6,32 meter, turun delapan sentimeter.
- Sei Harapan: 7,90 menjadi 7,84 meter, turun enam sentimeter.
- Sei Rempang: 4,50 menjadi 4,53 meter, naik tiga sentimeter.
Dengan demikian, enam dari tujuh waduk yang dipantau mengalami penurunan selama periode sembilan hari tersebut.
Kenaikan tipis di Sei Rempang belum membuat posisinya melampaui catatan awal September. Pada 3 September, TMA waduk tersebut berada di level 4,55 meter atau dua sentimeter lebih tinggi daripada pengukuran terbaru.
Nongsa Turun Paling Dalam Sejak Awal September
Dalam rentang 3–19 September 2026, seluruh waduk tercatat berada pada posisi yang lebih rendah. Penurunan terbesar terjadi di Sei Nongsa, disusul Sei Harapan dan Muka Kuning.
Perubahannya sebagai berikut:
- Sei Nongsa: turun 42 sentimeter, dari 6,33 menjadi 5,91 meter.
- Sei Harapan: turun 32 sentimeter, dari 8,16 menjadi 7,84 meter.
- Muka Kuning: turun 30 sentimeter, dari 22,73 menjadi 22,43 meter.
- Sei Ladi: turun 29 sentimeter, dari 18,36 menjadi 18,07 meter.
- Sei Tembesi: turun 22 sentimeter, dari 6,78 menjadi 6,56 meter.
- Duriangkang: turun 19 sentimeter, dari 6,51 menjadi 6,32 meter.
- Sei Rempang: turun dua sentimeter, dari 4,55 menjadi 4,53 meter.
Data tersebut menunjukkan bahwa penurunan tidak hanya terjadi pada satu waduk. Enam waduk mengalami penyusutan secara berkelanjutan sejak pengukuran awal hingga pertengahan September.
Sei Rempang menjadi satu-satunya waduk yang mengalami kenaikan pada pengukuran terbaru, meskipun posisinya masih sedikit lebih rendah daripada 3 September.
TMA Tidak Sama dengan Persentase Cadangan Air
Tinggi muka air menunjukkan elevasi permukaan air dalam satuan meter di atas permukaan laut. Angka tersebut tidak dapat langsung dibaca sebagai persentase cadangan air yang masih tersedia.
Setiap waduk memiliki bentuk, kedalaman, luas genangan, kapasitas tampung, elevasi maksimal atau top spill, serta kebutuhan produksi yang berbeda.
Karena itu, penurunan 20 sentimeter pada satu waduk tidak selalu memiliki dampak volume yang sama dengan penurunan serupa pada waduk lainnya.
Data TMA juga belum cukup untuk menghitung secara pasti berapa lama cadangan air dapat bertahan. Perhitungan ketahanan pasokan membutuhkan data tambahan seperti volume tampungan, debit air masuk, curah hujan di daerah tangkapan, tingkat sedimentasi, serta jumlah air yang diolah setiap hari.
Batam Bergantung pada Tampungan Air Hujan
Kondisi waduk memiliki peran penting bagi Batam karena pasokan air baku kota ini bergantung pada waduk tadah hujan.
Tidak seperti sejumlah wilayah lain, Batam tidak memiliki sungai besar maupun sumber air tanah dalam jumlah memadai untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan kegiatan industri.
Penurunan TMA yang berlangsung secara berurutan perlu dipantau, terutama apabila tidak disertai hujan yang cukup di daerah tangkapan air.
Namun, data TMA saja belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan Batam mengalami krisis air atau memastikan akan terjadi gangguan distribusi. Informasi mengenai produksi instalasi pengolahan air, kapasitas cadangan, dan kondisi layanan perlu menunggu keterangan operasional dari BP Batam maupun pengelola SPAM Batam.
Masyarakat tetap dapat membantu menjaga ketersediaan air dengan menggunakan air secara efisien, segera memperbaiki kebocoran instalasi di rumah, dan menghindari pemakaian yang tidak diperlukan.
Pemantauan berikutnya akan menentukan apakah hujan mampu menaikkan kembali permukaan waduk atau tren penurunan masih berlanjut hingga akhir September.
Sumber: Data Tinggi Muka Air Waduk Batam, Badan Pengusahaan Batam, pengukuran 3, 10, dan 19 September 2026.










